Selasa, 21 April 2015

Dewi Sartika Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Indonesia

FKP3NSIJABAR - Dewi Sartika lahir dari pasangan ningrat Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara dengan didikan beraneka ragam budaya, dari didikan budaya sunda hingga didikan barat.

Kegemarannya dalam belajar mengajar dalam hal membaca dan menulis sudah terlihat sejak kecil dengan mempraktikkan bersama anak anak pembantu di kepatihan,Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar.

Semakin banyak ilmu yang di gali di masa dewasanya, Dewi Sartika semakin gencar dalam mewujudkan cita citanya dengan bantuan Pamannya Bupati Martanagara untuk mewujudkan cita citanya,salah satu langkah awal dengan mendirikan sekolah di tahun 1902 yang mana di awali dengan pendidikan keterampilan Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu.

Berkembanglah pula ide untuk membuka sekolah perempuan atau Sakola Istri pertama se-Hindia-Belanda pada tahun 16 Januari 1904 setelah Konsultasi dengan Bupati R.A. Martenagara.Keberhasilan sekolah perempuan Dwi Sartka bisa mencetak lulusan lulusan perempuan bermartabat yang haknya sama dengan kedudukan laki laki.

Sekolah perempuan semakin berkembang dengan pergantian nama menjadi Sekolah Keutamaan Perempuan ( sakolah kautamaan istri ) di tahun ke 10 ( 1914 ),dan di saat perjalanan itu pula menikahlah Dewi sartika dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata di tahun 1906,yang mana pasangan Dewi Sartika adalah suami yang memiliki visi misi yang sama dalam memperjuangkan pendidikan, semakin berkembangnya sekolah perempuan yang didirikan Dewi Sartika, di tahun ke 25 pada bulan september 1929, diadakanlah peringatan pendirian sekolah yang mana sekaligus berganti nama menjadi Sakola Raden Dewi.

Dengan keberhasilan perjuangan Dwi Sartika,tercetuslah seorang anak bangsa tokoh pejuang wanita dari bandung yang membela hak kaum wanita dalam urusan pendidikan.
Dewi wafat pada 11 September 1947. Sebelumnya Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan dan disaat itu Setelah terjadi Agresi militer Belanda tahun 1947.
Dewi Sartika diberi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1966 dengan SK Presiden RI No. 152/1966
sumber : dokumentasi sejarah

Minggu, 19 April 2015

Menteri Pratikno : Dana Untuk KAA 200 miliar

FKP3NSIJABAR - Pemerintah menyediakan dana sebesar Rp 200 miliar untuk perhelatan Konferensi Asia Afrika (KAA) 2015 yang digelar 19-24 April 2015 di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta dan Bandung, Jawa Barat.

"Ada sekitar Rp 200 miliar," ungkap Menteri Sekretaris Negara Pratikno

Perhitungan dana adalah berdasarkan jumlah kepala negara yang hadir beserta delegasi utama. Kemudian juga termasuk untuk acara, pengamanan, dan sebagainya.

Dana tersebut sudah ditetapkan saat pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-Perubahan (APBN-P) 2015. Di mana terbagi atas pagu Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dan Kementerian Pariwisata (Kemenpar).

Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo menambahkan, di samping dana itu juga ada andil dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bandung. Karena penyelenggaraan acara di hari terakhir adalah di kota tersebut.

"Sudah ditetapkan di APBN-P, pagunya masuk di Kemenkominfo dan Kementerian Pariwisata. Ditambah APBD," kata Mardiasmo di JCC, Jakarta, Minggu (19/4/2015).(icl)

60 Tahun KAA : Sudah 32 Kepala Negara Siap Hadir

FKP3NSIJABAR - Delegasi peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) sudah berdatangan. Hingga Minggu (19/4/2015) ini, setidaknya sudah ada 32 kepala negara yang sudah konfirmasi hadir.

"Data terakhir per hari Minggu, 19 April 2015 adalah 86 negara, 32 presiden/raja/perdana menteri/vice president," jelas Direktur Informasi dan Media Siti Sofiah dalam pesan singkat yang diterima detikcom saat dikonfirmasi hari ini.

Siti menambahkan, selain 32 kepala negara atau setingkatnya, gelaran peringatan KAA ini juga dihadiri 40 menteri, 14 duta besar, 16 negara observer, 20 organisasi observer plus Asian Development Bank (ADB) dan United Nation Development Programme (UNDP).

Agenda Peringatan 60 Tahun KAA telah dimulai hari ini. Agenda pertama adalah pertemuan para pejabat senior yang terpusat di JCC.(icl)